JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon.
“Atas nama Pimpinan dan Anggota DPR RI, kami menyampaikan dukacita yang mendalam atas gugurnya Kapten Inf. Zulmi Aditya, Sertu M. Nur Ichwan, dan Praka Farizal Romadhon saat menjalankan misi kemanusiaan di Lebanon,” ujar Puan dalam pidatonya pada Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Puan berharap para prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Selain menyampaikan belasungkawa, Puan juga menekankan pentingnya investigasi yang kredibel bersama PBB untuk mengungkap peristiwa tersebut secara objektif. Ia menegaskan bahwa proses tersebut harus mengedepankan transparansi, akuntabilitas, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia.
Lebih lanjut, DPR RI akan mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penugasan prajurit TNI di wilayah konflik. Evaluasi ini mencakup kejelasan mandat, kesiapan operasional, serta perlindungan maksimal bagi personel sesuai standar internasional dalam operasi perdamaian.
Dalam pidatonya, Puan juga menyoroti eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada kondisi ekonomi global dan nasional.
Menurutnya, konflik tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi, memperburuk inflasi global, serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi. Dampaknya bahkan mulai dirasakan di dalam negeri, seperti kenaikan harga bahan bakar minyak, pelemahan nilai tukar rupiah, gangguan rantai pasok, hingga ketidakpastian investasi.
“Situasi global saat ini menunjukkan bahwa konflik di luar negeri dapat berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional,” jelasnya.
Puan menegaskan DPR RI terus mendorong pemerintah mengambil langkah antisipatif guna menjaga stabilitas ekonomi serta daya beli masyarakat melalui kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif.
DPR juga mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) di kawasan Timur Tengah, serta menjaga stabilitas kawasan sebagai bagian dari kepentingan nasional.
Dari sisi parlemen, Puan menegaskan bahwa diplomasi DPR harus menjadi instrumen strategis, tidak sekadar agenda seremonial. Hal ini tercermin dalam partisipasi DPR RI pada Sidang Umum ke-152 Inter-Parliamentary Union (IPU) di Istanbul, Turki.
Selain itu, DPR juga memperkuat hubungan bilateral melalui kunjungan delegasi negara sahabat, termasuk dari Uni Eropa dan Korea Selatan.
Menutup pidatonya, Puan turut memperingati Hari Kartini sebagai momentum penting bagi kemajuan perempuan Indonesia.
“Hari Kartini mengingatkan kita bahwa perubahan dimulai dari keberanian untuk melangkah. Perempuan Indonesia diharapkan terus berkarya dan berkontribusi bagi bangsa,” pungkasnya (RED).



























Discussion about this post