JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, menyoroti tingginya angka kasus Tuberkulosis (TBC) di Banyuwangi yang dinilai membutuhkan penanganan serius dan terintegrasi.
Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 3.169 warga terkonfirmasi positif TBC, sementara lebih dari 27.000 warga lainnya berstatus suspek. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi penularan yang masih luas di tengah masyarakat.
“Ini bukan hanya soal angka, tetapi soal keselamatan masyarakat. Besarnya jumlah suspek menandakan potensi penularan masih sangat tinggi,” ujar Ninik, sapaan akrabnya, Rabu (22/4/2026).
Ia menegaskan bahwa langkah agresif dalam skrining dan pelacakan kasus harus segera diperluas guna mempercepat deteksi dini serta memutus rantai penularan.
Selain itu, Ninik juga menyoroti fakta bahwa mayoritas kasus TBC di Banyuwangi menyerang kelompok usia produktif. Hal ini dinilai tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi keluarga.
“Jika usia produktif tumbang karena TBC, maka produktivitas menurun dan ekonomi keluarga terdampak,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengapresiasi langkah Dinas Kesehatan Banyuwangi yang dinilai proaktif dalam melakukan pelacakan kontak erat hingga ke tingkat komunitas. Namun, ia mengingatkan bahwa upaya tersebut harus dibarengi dengan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
Ninik menekankan pentingnya penyelesaian terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) selama minimal enam bulan tanpa putus untuk mencegah resistensi obat yang lebih sulit ditangani.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan layanan pengobatan gratis yang telah disediakan pemerintah, serta meminta pemerintah daerah menjamin ketersediaan obat dan kualitas pendampingan pasien.
Di akhir pernyataannya, Ninik optimistis bahwa dengan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, target eliminasi TBC di Banyuwangi maupun secara nasional dapat tercapai (RED).





























Discussion about this post