JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Pengamat politik Rocky Gerung menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto membatalkan mutasi Letnan Jenderal Kunto Arief Wibowo sebagai langkah politik yang tegas untuk mengakhiri bayang-bayang kekuasaan lama di tubuh militer. Rocky menyebut, tindakan tersebut adalah upaya menggagalkan manuver politik yang sebelumnya diasosiasikan dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
“Mutasi Kunto Arief yang mendadak dan penggantinya yang dikenal dekat dengan Jokowi menimbulkan tanda tanya besar. Dengan dibatalkannya mutasi itu, publik melihat Prabowo sedang menggagalkan manuver politik Jokowi,” kata Rocky melalui kanal YouTube-nya Rocky Gerung Official.
Ia menyebut langkah Prabowo sebagai koreksi terhadap praktik-praktik politik yang selama ini memengaruhi profesionalisme TNI. Lebih dari sekadar penataan jabatan, menurut Rocky, pembatalan mutasi ini adalah pernyataan bahwa Prabowo kini memegang kendali penuh atas institusi pertahanan negara.
“Prabowo sedang menegaskan bahwa kendali pertahanan dan militer kini sepenuhnya berada di tangannya, bukan lagi dibayangi oleh presiden sebelumnya,” tegasnya.
Publik pun turut memperhatikan dinamika ini. Proses mutasi dan promosi yang biasanya berjalan tertib dan berdasarkan meritokrasi dinilai mulai terganggu oleh kepentingan politik. Dalam kasus Letjen Kunto Arief, banyak pihak melihat indikasi intervensi yang merusak prinsip profesionalisme militer.
Rocky bahkan membuka kemungkinan bahwa Letjen Kunto sedang dipersiapkan untuk posisi strategis di masa depan. “Bisa saja Prabowo melihat Kunto sebagai figur yang tepat untuk memimpin TNI ke depan. Ini bentuk pemulihan martabat perwira yang sempat dijatuhkan secara tidak wajar,” tambahnya.
Di sisi lain, Rocky menyebut posisi Jokowi kini semakin defensif. Selain terkait mutasi TNI, isu dugaan ijazah palsu yang kembali mencuat di publik memperlemah legitimasi politik mantan presiden itu.
“Laporannya ke polisi tidak menenangkan situasi, justru makin memperkuat kecurigaan masyarakat,” ucap Rocky.
Rocky juga menyoroti kritik terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mulai muncul dari kalangan purnawirawan dan mahasiswa. Meski demikian, Prabowo dinilai tidak tergesa menanggapi. “Ia membiarkan opini publik berkembang. Itu strategi yang cerdas,” ujarnya.
Terakhir, Rocky mengingatkan soal kondisi ekonomi yang disebut sebagai “warisan era Jokowi.” Angka kemiskinan yang diklaim mencapai 172 juta orang menjadi beban tersendiri bagi pemerintahan baru.
Ia menegaskan pentingnya Prabowo menarik garis tegas sebagaimana pesan Susilo Bambang Yudhoyono: “Tak boleh ada dua matahari dalam politik.”
“Jika Prabowo tak bertindak tegas, luka-luka politik lama akan terus menjadi beban moral,” pungkas Rocky.
Pembatalan mutasi Letjen Kunto Arief diyakini menjadi awal dari koreksi politik yang lebih besar. Semua mata kini tertuju pada langkah-langkah lanjutan Presiden Prabowo dalam menata ulang arah kekuasaan dan membangun kembali kepercayaan publik terhadap TNI (RED).





























Discussion about this post