SOLO, RADIANTVOICE.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menanggapi santai tuduhan dirinya sebagai salah satu pemimpin terkorup dunia berdasarkan laporan Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP). Dalam laporan tersebut, nama Jokowi disandingkan dengan sejumlah tokoh dunia seperti Presiden Kenya William Ruto, Presiden Nigeria Bola Ahmed Tinubu, Mantan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina, dan pebisnis India Gautam Adani.
“Terkorup? Terkorup apa? Yang dikorupsi apa?” ujar Jokowi kepada wartawan di Solo, Jawa Tengah, Selasa (30/12/2024). Ia menantang pihak-pihak yang menyebut dirinya dengan sebutan tersebut untuk memberikan bukti konkret.
Menurut Presiden ke-7 RI itu, tuduhan seperti ini merupakan bagian dari upaya framing jahat yang kerap menyerangnya belakangan ini.
“Sekarang kan banyak sekali fitnah, banyak sekali framing jahat, banyak sekali tuduhan-tuduhan tanpa ada bukti. Itu yang terjadi sekarang kan?” kata Jokowi.
Saat ditanya apakah tuduhan tersebut bermuatan politis, Jokowi hanya tertawa kecil sembari menjawab bahwa pihak-pihak tertentu bisa menggunakan berbagai cara untuk menyerang.
“Ya ditanyakan saja. Orang bisa pakai kendaraan apapun lah, bisa pakai NGO, bisa pakai partai,” ungkapnya.
Jokowi menambahkan bahwa organisasi masyarakat (ormas) juga dapat dijadikan alat untuk menyebarkan tuduhan semacam itu. “Bisa pakai ormas untuk menuduh, untuk membuat framing jahat, membuat tuduhan jahat-jahat seperti itu ya,” ujarnya.
Laporan OCCRP yang memuat nama Jokowi sebagai salah satu tokoh dunia paling korup 2024 menimbulkan kontroversi. Namun, hingga kini belum ada penjelasan detail atau bukti yang mendukung klaim tersebut.
Presiden Jokowi mengaku tidak terlalu ambil pusing dengan tuduhan ini dan meminta masyarakat untuk tetap mengedepankan fakta. “Ya dibuktikan, apa,” tegasnya.
Pernyataan Jokowi ini mempertegas sikapnya terhadap berbagai tudingan miring yang kerap dialamatkan kepadanya selama menjabat. Dengan nada tenang, ia mengingatkan bahwa serangan semacam ini adalah hal yang biasa terjadi dalam dinamika politik.
Laporan OCCRP juga mendapat tanggapan beragam dari masyarakat Indonesia, termasuk dari pendukung dan pengkritik Jokowi. Beberapa pihak mempertanyakan kredibilitas laporan tersebut, sementara lainnya menganggapnya sebagai bahan refleksi untuk mengevaluasi kepemimpinan Jokowi.
Dalam penutup wawancara, Jokowi menegaskan kembali pentingnya bukti dalam setiap tuduhan. “Fitnah tanpa bukti hanya akan menjadi alat untuk memecah belah. Saya serahkan kepada masyarakat untuk menilai,” pungkasnya.





























Discussion about this post