JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, mengkritik munculnya budaya “siap komandan” dan “asal bapak senang” yang dinilai mulai merambah lembaga negara dan mengancam independensi hukum.
Pernyataan tersebut disampaikan saat orasi ilmiah dalam pengukuhan Profesor Emeritus bidang Hukum Tata Negara untuk Arief Hidayat di Universitas Borobudur, Sabtu (2/5/2026).
Megawati menilai, jika lembaga negara hanya mengikuti satu komando tanpa mempertimbangkan kebenaran hukum, maka keadilan akan tergerus.
“Apa saya dipikir tidak tahu? Tahulah saya kalau orang selalu mengelaknya begitu, bilang suruhan komandan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa independensi lembaga legislatif dan yudikatif merupakan fondasi penting dalam menjaga demokrasi dan supremasi hukum di Indonesia.
Selain itu, Megawati juga menyoroti pentingnya keberanian individu dalam menyampaikan pendapat berbeda (dissenting opinion) sebagai bagian dari integritas intelektual.
Ia pun mengapresiasi sikap Prof. Arief Hidayat yang pernah menyampaikan pendapat berbeda saat menjabat di Mahkamah Konstitusi.
Menurut Megawati, keberanian tersebut menjadi contoh penting bagi akademisi dan praktisi hukum dalam menjaga objektivitas dan keadilan.
Dalam kesempatan itu, ia turut mengajak mahasiswa dan kalangan akademisi untuk tidak takut menyuarakan kebenaran serta menjaga nurani dalam menegakkan hukum.
“Jangan biarkan hukum kehilangan keberpihakannya. Getarkan suara hati nurani saudara untuk mengawal kebenaran dan keadilan,” tegasnya.
Megawati menilai, tanpa keberanian menjaga independensi, lembaga negara berpotensi kehilangan fungsinya sebagai penjaga keadilan dan demokrasi (RED).



























Discussion about this post