JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa, Hasanuddin Wahid, menyoroti pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI) yang dinilai mulai merambah ranah religiusitas dan berpotensi menggeser peran manusia.
Hal itu disampaikan saat membuka diskusi bertajuk “AI vs Manusia” yang digelar oleh Garda Bangsa di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2026).
Dalam paparannya, Cak Udin, sapaan akrab Hasanuddin Wahid, mengungkapkan kekhawatiran terhadap peran guru, ulama, hingga pendakwah yang berpotensi terdisrupsi oleh kemajuan teknologi AI.
“Ada satu kerisauan saat ini. Peran guru, ulama, hingga pendakwah berpotensi tergantikan AI. Referensi yang diberikan AI sering kali lebih lengkap, sehingga peran mereka menjadi kurang diminati,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya kesenjangan antara perkembangan teknologi AI dengan kesiapan masyarakat dalam memanfaatkannya. Menurutnya, penggunaan AI saat ini masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan, sementara masyarakat di daerah belum sepenuhnya tersentuh.
“Kita melihat adanya gap yang nyata. Penggunaan AI masih terkonsentrasi di perkotaan, sementara masyarakat di daerah belum sepenuhnya tersentuh. Ini menjadi tantangan serius,” tambahnya.
Selain itu, Cak Udin menekankan pentingnya peningkatan literasi digital masyarakat agar mampu menggunakan teknologi secara bijak dan produktif. Ia juga mendorong pemerintah segera merumuskan regulasi yang jelas terkait pengembangan dan pemanfaatan AI di Indonesia.
“Perlu dipikirkan apakah diperlukan undang-undang khusus terkait AI, termasuk penentuan lembaga yang bertanggung jawab dalam pengelolaannya,” tegasnya.
Meski demikian, ia meyakini AI tidak akan sepenuhnya menggantikan manusia. Namun, ia mengingatkan potensi perubahan besar terhadap pola pikir, gaya hidup, hingga budaya akibat ketergantungan pada teknologi.
“Saya yakin AI tidak bisa menggantikan manusia. Tapi yang perlu kita waspadai adalah bagaimana teknologi ini bisa memengaruhi cara berpikir dan hidup kita,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, turut mengakui adanya kesenjangan dalam pemanfaatan AI, baik dari sisi kemampuan maupun faktor geografis.
Menurutnya, AI sejatinya hanya berperan sebagai alat bantu, sementara pengambilan keputusan tetap berada di tangan manusia.
“Keputusan tetap ada di tangan manusia—apa yang ingin kita gunakan dan apa yang ingin kita abaikan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya regulasi komprehensif yang mencakup mekanisme pengawasan serta sanksi terhadap dampak negatif dari penggunaan AI.
“Regulasi adalah kunci. Kita perlu memikirkan bersama bagaimana aturan dan sanksi yang tepat dalam penerapan AI,” pungkasnya (RED).

























Discussion about this post