JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Eva Monalisa, menilai maraknya kasus kekerasan terhadap anak di daycare sebagai bukti nyata kegagalan sistem perlindungan anak di Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan menyusul terungkapnya dugaan kekerasan terhadap sedikitnya 53 anak di daycare Little Aresha, Yogyakarta.
“Ini bukan lagi sekadar kelalaian, tetapi indikasi kegagalan sistem perlindungan anak yang serius dan berulang,” ujar Eva dalam keterangan yang diterima redaksi Radiant Voice, Minggu (26/4/2026).
Ia menyoroti bahwa kasus serupa sebelumnya juga terjadi di kawasan Depok pada 2024, yang menunjukkan pola berulang akibat lemahnya pengawasan.
Menurutnya, persoalan ini tidak bisa lagi dilihat sebagai tindakan individu semata, melainkan kegagalan sistemik yang melibatkan pengelola, pengawas, hingga regulasi yang belum berjalan optimal.
“Jika kasus serupa terus berulang dari Depok hingga Yogyakarta, maka jelas ada yang salah dalam sistem pengawasan daycare di Indonesia,” tegasnya.
Eva menekankan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan yang wajib dilindungi negara. Karena itu, ia mendesak pemerintah segera melakukan audit nasional terhadap seluruh daycare di Indonesia.
Selain itu, ia juga mendorong penerapan standar ketat bagi pengasuh dan operasional daycare, termasuk pengawasan real-time melalui CCTV yang dapat diakses orang tua.
Ia menegaskan pentingnya pemberian sanksi maksimal tanpa kompromi terhadap pelaku maupun pengelola yang terbukti lalai, serta pembentukan sistem pengaduan yang cepat dan responsif di setiap daerah.
“Kasus daycare bukan lagi soal oknum, tapi kegagalan sistem. Negara harus hadir dengan regulasi ketat, pengawasan nyata, dan sanksi tanpa kompromi,” ujarnya.
Eva menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi momentum perbaikan menyeluruh dalam sistem perlindungan anak.
“Jika negara gagal melindungi anak di ruang yang seharusnya paling aman, maka kita sedang menghadapi krisis perlindungan anak yang nyata,” pungkasnya (RED).

























Discussion about this post