JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Di tanah yang pernah dilintasi pasukan Sultan Hasanuddin dengan gelegar semangat melawan kolonialisme, dan di antara batu-batu benteng tua Somba Opu yang masih menyimpan bau mesiu dan kenangan keberanian, Muhammad Arief Rosyid Hasan dilahirkan pada 4 September 1986. Kelak anak laki-laki itu akan menjelma bukan hanya sebagai pemimpin organisasi, tetapi juga penjelajah cita, pemanggul nilai, dan penjaga asa anak bangsa.
Arief tumbuh dalam rumah yang teduh di Sungguminasa, Gowa—tanah warisan Kerajaan Gowa yang penuh kehormatan dan sejarah. Ayahnya, Dr. Ir. H. Hasan Hasyim, M.Si, adalah lelaki berdarah bangsawan yang tak pernah jemu menimba ilmu, sementara ibunya, drg. Hj. Ratnawati Asaad, perempuan yang hangat dan bersahaja, adalah cerminan kasih tanpa batas dari darah Bugis, Arab, dan Jawa yang berkelindan dalam dirinya. Arief tumbuh dalam pelukan nilai-nilai luhur yang menyeimbangkan keuletan dan kelembutan, antara tegasnya prinsip dan lenturnya empati.
Sejak kecil, ia dikenal sebagai pengumpul teman dan penggerak pertemanan. Rumah masa kecilnya di Jalan Mawar tak pernah sepi dari tawa dan jejak sandal. Ia bukan sekadar anak yang pandai bergaul, tapi juga pemimpin geng kecil yang mengatur jadwal main bola, nonton TV, hingga bermain PlayStation. Jiwa kolektifnya tumbuh dari halaman rumah yang selalu terbuka bagi siapa pun, tak peduli latar belakang dan rupanya.
Di SMA Negeri 1 Sungguminasa, Arief menjelma menjadi remaja yang penuh warna. Sepak bola, musik, hingga komunitas geng motor bernama Kaizar mewarnai masa mudanya. Namun Kaizar bukan sekadar urusan mesin dan knalpot, melainkan tempat berlatih loyalitas, persaudaraan, dan mengelola perbedaan.
Keputusan masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin seolah menjadi arah hidup yang jelas. Tapi jalan nasib sering kali punya simpang yang tak terduga. Arief jatuh cinta bukan pada anatomi atau fisiologi rongga mulut, melainkan pada dinamika organisasi dan perbincangan di tengah lingkaran diskusi. Dunia HMI menyambutnya dengan peluh dan gemuruh. Tahun 2004, ia mengikuti Basic Training, lalu menjabat Ketua Komisariat FKG dan kemudian Ketua BEM FKG Unhas. Langkah-langkah kecilnya di kampus mengantarkannya menapaki anak tangga panjang organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, HMI.
Di tengah riuh tugas kuliah dan tekanan laboratorium, Arief justru memburu buku-buku filsafat, sosial, dan politik. Ia memilih jalan sunyi yang jarang ditempuh mahasiswa kedokteran: jalan membaca dan berdialektika. Di kamar kecil kosannya di Palbatu, Jakarta Selatan, ukuran 3×3 meter, berjejal buku-buku dan pakaian, ia bertahan hidup dalam kesederhanaan. Seorang Ketua Umum PB HMI yang lebih memilih burjo dibanding restoran elit. Ia tak sedang menampilkan kesahajaan, tapi sungguh-sungguh menjalaninya.
Kegagalan di Makassar, saat ia mencalonkan diri sebagai Ketua Cabang HMI, tak membuatnya patah arang. Justru dari kekalahan itu, ia belajar menerima luka dan menjadikannya kekuatan. Tahun 2013, sejarah pun terukir: Arief terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar HMI lewat drama kongres yang menegangkan. Satu bulan penuh kongres HMI waktu itu berjalan dan mengalami perpindahan arena lokasi kongres sampai tiga kali. Kongres HMI, yang menurut sebagian kader dan alumninya, sebagai kongres terlama dalam sejarah HMI.
Terpilihnya Arief dalam Kongres HMI di GOR Ragunan itu adalah sebuah prestasi luar biasa yang membuyarkan stereotip bahwa anak kedokteran gigi tak bisa jadi jago diskusi, apalagi pemimpin nasional. Dimulai dari titik itulah, langkah Arief Rosyid semakin panjang.
Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Departemen Kaderisasi Pemuda Dewan Masjid Indonesia (DMI), menggagas berdirinya ISYEF, forum pemuda masjid yang berpikir dan bertindak dalam semangat kewirausahaan. Ia ingin masjid tak hanya menjadi tempat bersujud, tapi juga bangkitnya ekonomi umat.
Tahun 2020, namanya menghiasi lembar-lembar media ketika ditunjuk sebagai Komisaris Independen Bank Syariah Mandiri. Setahun berselang, ia bergabung dengan Bank Syariah Indonesia. Tapi jabatan baginya bukan singgasana yang harus dipertahankan mati-matian. Tahun 2023, ia mundur karena menjadi Komandan Pemilih Muda dalam Tim Kampanye Prabowo-Gibran. Di sana, ia tak hanya membawa suara, tapi membawa visi.
Pada pertengahan 2024, ia resmi menyerahkan hidupnya kepada dunia politik secara lebih formal. Bergabung dengan Partai Golkar, langsung menerima Kartu Tanda Anggota dari Ketua Umum Bahlil Lahadalia. Sosok Bahlil, yang juga datang dari jalanan perjuangan, menjadi inspirasi baginya. Arief merasa, jalan Golkar adalah jalan yang bisa ia isi dengan semangat HMI: membangun bangsa dari akar rakyat.
Meski telah menulis lima buku, menjadi komisaris, dan menjelma menjadi tokoh publik, Arief Rosyid tak pernah menjauh dari rumah. Rumah kecil di Gowa masih jadi tempat ia pulang, tempat teman-teman lamanya berkumpul saat Idul Fitri, dan tempat kenangan masa kecilnya tak pernah pudar. Ia hidup dalam irama silaturahmi, dari masa ke masa, dari lapangan bola hingga ruang rapat kementerian.
Muhammad Arief Rosyid Hasan adalah anak muda yang menolak hidup biasa-biasa. Ia mengubah jalan hidupnya dari kampus kedokteran gigi menuju ruang publik yang lebih luas. Dari rumah kecil yang riuh oleh sahabat, ia melangkah ke panggung besar bangsa dengan hati yang tetap sederhana, dan keyakinan bahwa perubahan lahir dari mereka yang berani mengambil jalan berbeda (*)
*Tulisan ini disarikan ulang dari buku berjudul Arief Rosyid Hasan : Komitmen Merawat Kebaikan































Discussion about this post