JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, mengecam keras tindakan tidak terpuji yang dilakukan dosen Universitas Islam Makassar (UIM), Amal Said, yang meludahi seorang kasir swalayan. Ia menilai peristiwa tersebut mencederai nilai kemanusiaan sekaligus merusak martabat profesi pendidik.
“Sebagai dosen, sikap meludahi orang lain merupakan tindakan yang tidak beradab, merendahkan martabat kemanusiaan, dan sama sekali tidak dapat ditoleransi dalam kehidupan sosial mana pun,” tegas Lalu Hadrian Irfani, Senin (29/11/2025).
Ia mengaku sangat prihatin atas insiden tersebut dan menegaskan bahwa perbuatan itu tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. Menurutnya, dosen tidak hanya bertugas mengajar di ruang kelas, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral sebagai teladan di ruang publik.
“Saya memandang peristiwa ini sangat disayangkan. Dosen adalah pendidik sekaligus teladan moral, sehingga sikap arogan, apalagi tindakan meludah kepada pekerja layanan, jelas bertentangan dengan etika akademik, adab sosial, dan martabat profesi pendidik,” ujarnya.
Legislator asal Daerah Pemilihan NTB II itu menambahkan, alasan emosi tidak dapat dijadikan pembenaran atas tindakan kekerasan verbal maupun simbolik. Sebaliknya, pengendalian diri merupakan bagian penting dari integritas seorang dosen.
“Alasan emosi tidak bisa dijadikan pembenaran, karena pengendalian diri justru menjadi bagian dari integritas seorang dosen,” katanya.
Lebih lanjut, Lalu Hadrian Irfani mendorong agar kasus tersebut ditangani secara tegas dan proporsional. Mengingat yang bersangkutan berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN), ia meminta agar sanksi ditegakkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Karena berstatus ASN, sanksi harus ditegakkan secara tegas dan proporsional, mulai dari sanksi disiplin ASN, sanksi etik oleh perguruan tinggi, hingga permintaan maaf secara terbuka,” jelasnya.
Ketua DPW PKB NTB itu menegaskan bahwa penegakan sanksi bukan semata-mata untuk menghukum, tetapi juga sebagai pembelajaran dan efek jera bagi semua pihak.
“Ini penting agar menjadi pelajaran bahwa ruang publik dan dunia akademik menuntut sikap beradab, bukan arogansi,” pungkasnya (RED).






























Discussion about this post