JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Politisi Fraksi PKB, Hindun Anisah, menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis sebagai inisiator perdamaian dalam berbagai konflik, meski sering luput dari perhatian publik.
Hal itu disampaikan dalam Seminar Perempuan yang digelar Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI) bertema “Dari Suara ke Aksi: Peran Strategis Perempuan dalam Dinamika Konflik Masa Kini” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Menurut Hindun, selama ini perempuan lebih sering diposisikan sebagai korban dalam narasi konflik, padahal banyak di antaranya berperan aktif dalam proses resolusi dan perdamaian.
“Perempuan di dalam perdamaian itu selama ini disorot sebagai korban. Tetapi sebenarnya banyak perempuan yang berperan dalam menyelesaikan konflik dan menginisiasi perdamaian,” ujarnya.
Peran Nyata Perempuan dalam Sejarah Konflik
Hindun mencontohkan sejumlah peran penting perempuan dalam sejarah konflik di Indonesia, seperti gerakan Liga Inong Aceh yang aktif dalam edukasi dan partisipasi sosial saat konflik Aceh.
Ia juga menyinggung tokoh-tokoh perempuan Aceh seperti Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, dan Malahayati sebagai inspirasi perjuangan perempuan dalam menjaga perdamaian.
Selain itu, Hindun mengangkat peran komunitas perempuan di berbagai daerah, seperti Papaleli di Maluku dan gerakan perempuan Kendeng, yang menggunakan pendekatan non-formal dalam meredam konflik.
“Perempuan sering menggunakan strategi yang tidak terlihat, tetapi hasilnya luar biasa dalam menciptakan perdamaian,” jelasnya.
Dorong Perempuan Masuk Politik
Meski memiliki peran besar, Hindun menyoroti masih minimnya keterlibatan perempuan dalam proses negosiasi formal. Ia menyebut hanya sekitar 13 persen perempuan yang terlibat sebagai negosiator perdamaian secara global.
Karena itu, ia mendorong perempuan untuk lebih aktif masuk ke dunia politik guna menjembatani kebutuhan masyarakat dengan kebijakan publik.
“Mau tidak mau, perempuan harus masuk ke ranah politik agar bisa mencegah konflik dan memastikan kebijakan lebih berpihak,” tegasnya.
Namun demikian, Hindun mengakui masih adanya tantangan besar, seperti hambatan finansial dan budaya patriarki yang mengakar kuat.
Ia juga menekankan pentingnya literasi digital untuk melawan stigma negatif terhadap perempuan yang kerap muncul di media sosial.
Melalui forum ini, Hindun mengajak seluruh pihak untuk terus mendorong edukasi politik bagi perempuan serta memperkuat keberpihakan terhadap kelompok rentan dan masyarakat terdampak konflik (RED).



























Discussion about this post