JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Guru Besar Ilmu Komunikasi Massa Universitas Budi Luhur, Prof. Dr. Dudi Iskandar, mengingatkan bahaya komersialisasi pendidikan yang dinilai mulai menggeser fungsi kampus dari ruang pembentukan karakter menjadi sekadar penyedia tenaga kerja industri.
Pernyataan itu disampaikan Prof. Dudi dalam Diskusi Publik bertajuk “Pendidikan: Hak Konstitusi atau Komoditas Ekonomi?” yang digelar Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (DEMA FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Aula Student Center UIN Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Dalam pemaparannya, Prof. Dudi menilai pendidikan sejatinya memiliki misi membentuk manusia yang kritis, beradab, dan memiliki kesadaran sosial, bukan hanya memenuhi kebutuhan pasar kerja.
“Pendidikan semestinya mencetak generasi yang berpikir kritis dan mampu menjawab persoalan masyarakat, bukan hanya memproduksi manusia yang diarahkan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja,” ujar Prof. Dudi.
Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai pendidikan dalam Al-Qur’an menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat pembebasan manusia. Namun, menurutnya, orientasi pendidikan saat ini perlahan bergeser akibat dominasi logika ekonomi pasar yang semakin kuat masuk ke dunia kampus.
Prof. Dudi juga menegaskan bahwa setiap kebijakan pendidikan nasional harus tetap berpijak pada amanat konstitusi dan kebutuhan rakyat, bukan semata kepentingan bisnis maupun industrialisasi pendidikan tinggi.
Diskusi publik tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan dihadiri mahasiswa lintas jurusan, akademisi, peneliti, serta unsur pimpinan fakultas.
Selain Prof. Dudi, peneliti Politika Research & Consulting (PRC), Milki Amirus Soleh, turut menyoroti menurunnya daya kritis mahasiswa terhadap persoalan sosial dan kebijakan negara.
“Mahasiswa jangan sampai kehilangan nalar kritisnya. Ketika mahasiswa mulai apatis terhadap kebijakan negara, maka ruang demokrasi akan semakin mudah dikendalikan oleh kepentingan elit,” kata Milki.
Sementara itu, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FDIKOM UIN Jakarta, Dr. Muhtadi, menilai pendidikan harus dipandang sebagai alat perubahan sosial dan pembangunan bangsa.
Forum tersebut juga membahas dampak transformasi perguruan tinggi menuju sistem PTN-BH yang dinilai berpotensi meningkatkan biaya pendidikan dan mempersempit akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi.
Melalui diskusi ini, DEMA FDIKOM UIN Jakarta berharap lahir gerakan intelektual mahasiswa yang lebih progresif dalam mengawal kebijakan pendidikan agar tetap inklusif, terjangkau, dan berpihak pada keadilan sosial (RED).

























Discussion about this post