JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Halal Bi Halal Yayasan Amal Insani bersama alumni HMI Yogyakarta digelar di Masjid Baiturrahman DPR RI, Selasa (14/4/2026). Kegiatan ini mengangkat tema Tantangan Umat Islam di Tengah Perubahan Geopolitik dengan menghadirkan Hajriyanto Y Thohari sebagai penceramah utama.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat silaturahmi alumni sekaligus mendorong kontribusi nyata di berbagai bidang kehidupan.
Ketua Panitia, Chamad Hojin, menyampaikan bahwa halal bi halal menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus memperkuat kolaborasi antaralumni.
“Kegiatan ini bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan kontribusi bagi umat dan bangsa,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga diiringi dengan inisiatif pemberian beasiswa yang didukung oleh berbagai pihak, mulai dari alumni hingga mitra lembaga.
“Kami menginisiasi program beasiswa dari berbagai sumber sebagai bentuk kepedulian terhadap kader dan generasi penerus,” tambahnya.
Sementara itu, Zulfikar Arse Sadikin selaku tuan rumah menegaskan bahwa alumni HMI Yogyakarta telah berkiprah luas di berbagai sektor strategis.
“Alumni HMI Yogya tersebar di banyak lini, mulai dari politik, akademisi, hingga profesional, dan semuanya membawa semangat pengabdian,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga tradisi silaturahmi yang telah terbangun selama puluhan tahun.
“Selama 30 tahun, alumni HMI konsisten memberikan beasiswa kepada kader di berbagai cabang, dan ini harus terus dijaga,” tegasnya.
Ketua Umum Yayasan Amal Insani, Ibrahim Ambong, menilai bahwa pertemuan lintas generasi ini memiliki nilai strategis dalam memperkuat jaringan alumni.
“Halal bi halal ini mempertemukan yang muda dan senior, sehingga terjadi penguatan jejaring dan kontribusi nyata,” ujarnya.
Ia berharap tradisi tersebut terus terjaga sebagai bagian dari upaya membangun generasi dan memperkuat peran alumni di tengah masyarakat.
Dalam sesi pemaparan, Mantan Duber RI untuk Lebanon yang juga Direktur Akademi Partai Golkar, Hajriyanto Y. Thohari, mengulas dinamika geopolitik Timur Tengah pasca Perang Dunia I serta perkembangan intelektual di kawasan tersebut.
“Timur Tengah hari ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pembagian wilayah pasca Perang Dunia I,” jelasnya.
Ia juga menyoroti peran Lebanon, khususnya Beirut, sebagai pusat perkembangan bahasa Arab modern.
“Banyak kamus dan literatur bahasa Arab modern diproduksi di Beirut, menjadikannya pusat intelektual penting di dunia Arab,” pungkasnya.
Kegiatan ini diharapkan terus menjadi wadah strategis dalam memperkuat silaturahmi, membangun generasi, serta meningkatkan kontribusi alumni HMI bagi umat dan bangsa (RED).


























Discussion about this post