JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Direktur Center Sustainable Development Columbia University, Profesor Jeffrey Sachs, menyatakan bahwa Iran berpotensi menjadi “kuburan” bagi hegemoni Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, seiring meningkatnya eskalasi konflik dan ketidakjelasan strategi Washington.
Dalam wawancara bersama jurnalis Glenn Greenwald, Sachs menilai situasi geopolitik saat ini berada di jalur eskalasi berbahaya, dengan minimnya tanda-tanda deeskalasi maupun negosiasi yang kredibel antara Amerika Serikat dan Iran.
“Iran is the graveyard of American hegemony,” ujar Sachs, menegaskan pandangannya bahwa dominasi AS di kawasan tersebut menghadapi tantangan serius.
Sachs mengkritik keras pendekatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilainya tidak memiliki arah kebijakan yang jelas. Ia menyebut keputusan-keputusan yang diambil cenderung impulsif dan tidak berbasis perencanaan strategis.
“Saya pikir Trump tanpa rencana sama sekali, saya tidak melihat adanya strategi militer yang jelas. Ini adalah improvisasi dari pagi hingga malam,” kata Sachs.
Menurut dia, ketidakpastian kebijakan AS justru memperbesar risiko konflik terbuka yang lebih luas, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel.
Ia juga menyoroti bahwa klaim adanya negosiasi tidak sejalan dengan realitas di lapangan. Iran, kata Sachs, secara konsisten menolak adanya pembicaraan langsung maupun tidak langsung dengan Amerika Serikat dalam kondisi tekanan militer.
“Tidak ada negosiasi nyata. Sementara itu, eskalasi militer terus berjalan dan situasinya semakin berbahaya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sachs menilai Iran berada dalam posisi mempertahankan diri dari ancaman eksistensial. Hal ini membuat kemungkinan kompromi menjadi sangat kecil.
“Iran menghadapi ancaman eksistensi. Itu bukan paranoia, tetapi berdasarkan pernyataan langsung dari para pemimpin yang ingin menghentikan mereka,” kata dia.
Dalam analisisnya, Sachs memaparkan tiga kemungkinan skenario. Pertama, kehancuran Iran akibat serangan besar-besaran AS, meski dinilai kecil kemungkinannya. Kedua, Iran mampu bertahan bahkan membalas melalui kekuatan misilnya. Ketiga, intervensi kekuatan global lain seperti Rusia, China, dan India untuk menghentikan konflik.
“Satu-satunya jalan realistis untuk menghentikan perang adalah jika kekuatan besar dunia bersatu dan mengatakan kepada Amerika Serikat untuk menghentikan eskalasi,” ujarnya.
Sachs juga mengkritik lemahnya kualitas pengambilan kebijakan di pemerintahan AS yang dinilainya tidak lagi berbasis analisis mendalam. Ia membandingkan dengan perencanaan jangka panjang yang dilakukan negara lain seperti China.
“Tidak ada rencana satu tahun, tidak ada rencana lima tahun. Ini adalah kekacauan kebijakan yang berulang,” kata Sachs.
Di sisi lain, ia menyoroti sikap negara-negara Eropa yang dinilai tidak berani mengambil posisi independen dalam merespons kebijakan AS.
“Para pemimpin Eropa tampak takut untuk berbicara jujur ketika Amerika Serikat mengambil langkah yang berbahaya,” ucapnya.
Sachs menegaskan, tanpa perubahan pendekatan diplomasi global, konflik berisiko terus berlanjut dan berdampak luas terhadap stabilitas internasional serta ekonomi dunia.
“Kita berada di jalur eskalasi. Tanpa intervensi serius dari kekuatan global lain, situasi ini bisa menjadi sangat berbahaya bagi dunia,” kata dia (RED).



























Discussion about this post