JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Aksi protes aktivis asal Sumatra Utara terkait penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) berujung kekecewaan. Muhammad Syafi’i bersama Aidil Akbar Lubis dan Fahmi Nasution mengaku tidak mendapat tanggapan dari pemerintah maupun DPR RI, meski telah menempuh perjalanan panjang demi menyuarakan aspirasi masyarakat kecil.
“Kami datang jauh-jauh dari Kabupaten Asahan, bahkan berjalan kaki hampir dua bulan, tapi tidak ditanggapi,” ujar Muhammad Syafi’i dengan nada kecewa usai berorasi di kawasan Senayan, Jakarta.
Syafi’i menjelaskan, aksi tersebut dilakukan untuk menyampaikan berbagai persoalan serius dalam pelaksanaan KUR di lapangan. Mulai dari masih adanya permintaan agunan untuk pinjaman di bawah Rp100 juta, pengalihan sepihak ke kredit komersial, hingga dugaan praktik tidak sehat oleh oknum perbankan.
Menurutnya, perjuangan panjang yang mereka tempuh seharusnya menjadi bukti keseriusan masyarakat dalam mencari keadilan. Namun, sikap diam para pejabat justru menambah rasa frustrasi para aktivis.
“Kami tidak datang untuk kepentingan pribadi. Ini soal hak masyarakat kecil yang selama ini terabaikan,” tegasnya.
Syafi’i menilai, ketidakhadiran pejabat untuk menemui langsung massa aksi mencerminkan lemahnya empati negara terhadap persoalan UMKM dan rakyat kecil. Padahal, KUR merupakan program strategis pemerintah yang seharusnya dijalankan secara adil dan transparan.
Ia menegaskan, perjuangan belum akan berhenti. Para aktivis berencana menggelar aksi lanjutan sebagai bentuk tekanan moral agar pemerintah dan DPR membuka ruang dialog serta mengambil langkah konkret.
“Kalau hari ini kami tidak didengar, kami akan datang lagi. Negara harus hadir untuk rakyatnya,” pungkas Syafi’i (RED).



























Discussion about this post