Oleh: Maulana Sumarlin*
Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah karya Aurélie Moeremans bukanlah sekadar memoar tentang trauma pribadi. Buku ini lebih tepat dibaca sebagai kesaksian sosial sekaligus tuduhan moral terhadap sistem yang memungkinkan kekerasan tumbuh dalam ruang yang seharusnya melindungi. Ia mengajak pembaca untuk melihat bahwa kekerasan seksual dan psikologis tidak selalu lahir dari kegelapan anonim, melainkan sering berakar pada relasi kuasa yang timpang, normalisasi perilaku menyimpang, serta pembiaran kolektif.
Sejak awal, Moeremans menyatakan bahwa bukunya ditulis bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk memecah sunyi. Pernyataan itu segera menemukan maknanya. Yang ia tawarkan bukan kisah sentimental tentang penderitaan, melainkan penelusuran jujur tentang bagaimana manipulasi bekerja perlahan, nyaris tak terasa, hingga akhirnya berubah menjadi kekerasan yang utuh. Dalam hal ini, Broken Strings menjadi arsip tentang bagaimana seorang remaja perempuan dapat terperangkap dalam relasi abusif tanpa pernah merasa sedang “diculik” atau “diserang” secara eksplisit.
Poros utama buku ini adalah relasi antara Aurélie yang masih berusia 15 tahun dengan seorang aktor pria hampir dua kali lipat usianya. Secara struktural, relasi ini sudah bermasalah. Perbedaan usia, pengalaman hidup, status sosial, dan posisi ekonomi menciptakan ketimpangan kuasa yang sangat besar. Namun yang membuat situasi ini semakin berbahaya adalah kenyataan bahwa relasi tersebut tumbuh dalam ekosistem industri hiburan yang permisif. Manajer yang memalsukan usia demi pekerjaan, lingkungan kerja yang menutup mata, dan budaya yang mengagungkan profesionalisme tanpa perlindungan anak menjadi latar yang memungkinkan relasi itu berlangsung tanpa pertanyaan etis yang serius.
Di sinilah Broken Strings memperoleh bobot investigatifnya. Buku ini tidak berhenti pada pelaku sebagai individu, melainkan secara implisit menyingkap sistem yang gagal menjalankan fungsi proteksi. Kekerasan tidak muncul sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai hasil dari rangkaian keputusan kecil yang salah, yang dibiarkan dan dinormalisasi.
Moeremans dengan teliti memetakan pola klasik kekerasan berbasis relasi kuasa. Dimulai dari grooming emosional, ketika pelaku masuk ke dalam kehidupan korban dan keluarganya dengan sikap ramah, perhatian, dan pemberian kecil yang tampak tulus. Lalu datang isolasi sosial, melalui kontrol komunikasi, tuntutan untuk selalu tersedia, dan penghapusan relasi lain yang dianggap mengancam. Setelah itu, tercipta “utang moral”, di mana setiap perhatian pelaku diperlakukan sebagai pengorbanan besar yang harus dibalas. Batas-batas pribadi korban kemudian digerus perlahan, hingga penolakan tidak lagi dipandang sebagai hak, melainkan sebagai kesalahan.
Dalam pola ini, kekerasan seksual tidak muncul sebagai ledakan tiba-tiba, tetapi sebagai klimaks dari proses manipulasi psikologis yang panjang. Buku ini secara efektif meruntuhkan mitos bahwa pemerkosaan selalu berbentuk serangan brutal di ruang gelap oleh orang asing. Ia bisa terjadi di kamar sendiri, dengan musik diputar agar terdengar normal, diakhiri dengan pelukan, bahkan dengan janji pernikahan. Kekerasan menjadi begitu berbahaya justru karena tampil dalam wajah yang akrab.
Salah satu kekuatan terbesar Broken Strings adalah kemampuannya menunjukkan bagaimana menyalahkan korban bekerja dari dalam. Pelaku tidak hanya menekan secara fisik atau seksual, tetapi juga membangun narasi bahwa korban tidak cukup mencintai, tidak dewasa, tidak tahu berterima kasih, dan terlalu egois menjaga batas tubuhnya. Perlahan, narasi ini diserap oleh korban sendiri. Ia mulai memandang dirinya sebagai sumber masalah. Di titik inilah kekerasan psikologis menjadi sempurna: ketika korban ikut menjaga sistem yang melukainya.
Dalam konteks industri hiburan, temuan ini menjadi sangat penting. Anak dan remaja sering diposisikan sebagai “talenta”, “aset”, atau “komoditas”, bukan sebagai subjek yang membutuhkan perlindungan. Bahasa profesionalisme menutupi fakta bahwa mereka berada dalam posisi yang sangat rentan. Broken Strings menunjukkan bahwa ketika uang, proyek, dan citra publik menjadi prioritas utama, keselamatan anak berubah menjadi variabel yang dapat dinegosiasikan.
Dari sisi gaya penulisan, Moeremans memilih bahasa yang sederhana, langsung, dan sering kali terasa mentah. Keputusan ini bersifat politis. Ia menolak estetisasi penderitaan. Tidak ada upaya untuk memperindah luka agar enak dibaca. Pembaca tidak diajak menikmati kesedihan, melainkan dipaksa menghadapinya sebagai kenyataan yang mengganggu. Justru karena itulah buku ini memiliki daya hantam moral yang kuat.
Lebih jauh, Broken Strings juga merupakan kritik terhadap budaya yang terlalu mudah percaya pada citra publik. Pelaku digambarkan sebagai sosok karismatik, dikenal banyak orang, religius, dan tampak dewasa. Semua atribut itu berfungsi sebagai tameng. Buku ini mengingatkan bahwa reputasi sosial sering kali justru menjadi alat perlindungan paling efektif bagi kekerasan.
Pada titik ini, memoar ini berubah menjadi arsip kesaksian. Ia menempatkan pembaca sebagai saksi yang tidak lagi memiliki kemewahan untuk berpura-pura tidak tahu. Pertanyaan yang muncul bukan lagi “siapa pelakunya”, melainkan “siapa saja yang membiarkannya terjadi”. Apakah tanggung jawab hanya berhenti pada individu, atau juga melekat pada industri, keluarga, dan budaya yang membentuk situasi itu?
Broken Strings adalah tuduhan yang tenang, tetapi tajam. Ia tidak berteriak, tetapi menunjuk dengan jelas. Buku ini menolak gagasan bahwa simpati saja sudah cukup. Yang dituntut adalah perubahan cara pandang: tentang cinta, tentang kekuasaan, tentang profesionalisme, dan tentang tanggung jawab kolektif.
Sebagai karya, buku ini memang tidak nyaman. Ia berat, mengganggu, dan tidak menawarkan pelarian emosional. Namun justru di situlah nilainya. Ia tidak ditulis untuk menghibur, melainkan untuk menggugat. Ia memaksa pembaca mengakui bahwa kekerasan seksual bukanlah penyimpangan langka, melainkan bagian dari struktur sosial yang belum selesai kita benahi.
Dalam lanskap literatur Indonesia, Broken Strings seharusnya dibaca sebagai alarm. Bukan hanya bagi pembaca umum, tetapi bagi industri hiburan, lembaga perlindungan anak, regulator, dan siapa pun yang selama ini merasa cukup dengan sikap “tidak tahu”.
Merangkai luka, dalam buku ini, berarti menyusun ulang keping-keping pengalaman agar memiliki makna. Mematahkan sunyi berarti menolak diam sebagai bentuk keselamatan. Dan di situlah keberanian sejati buku ini berada: pada keputusannya untuk berbicara, meski tahu bahwa suara itu akan mengguncang banyak kenyamanan.
*Penulis adalah Direktur Eksekutif DE HMS Consulting


























Discussion about this post