SURABAYA, RADIANTVOICE.ID – Di era perkembangan teknologi yang semakin pesat dan begitu cepat yang kini di dunia global sudah mencapai era society 5.0, transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Dunia bisnis sedang menghadapi revolusi besar, di mana kemampuan beradaptasi terhadap teknologi menentukan hidup matinya sebuah perusahaan.
Transformasi digital bukan hanya soal mengubah sistem manual menjadi otomatis, atau menghadirkan aplikasi canggih dalam operasional bisnis. Esensinya jauh lebih dalam, ini adalah transformasi pola pikir, budaya kerja, dan strategi inovasi. Perusahaan yang mampu menempatkan teknologi sebagai mitra strategis, bukan sekadar alat, akan memiliki peluang besar untuk bertahan dan unggul dalam kompetisi global.
Kita melihat banyak contoh konkret di sekitar kita. Usaha kecil yang dulunya beroperasi secara konvensional kini tumbuh pesat karena beradaptasi dengan e-commerce, media sosial, dan sistem pembayaran digital. Sementara itu, perusahaan besar yang lamban berinovasi, perlahan ditinggalkan oleh konsumen yang lebih menyukai kecepatan, kemudahan, dan personalisasi layanan.
Namun, transformasi ini tidak datang tanpa tantangan. Kesenjangan digital, keamanan data, dan sumber daya manusia yang belum siap menjadi hambatan serius. Oleh karena itu, pemerintah, pelaku bisnis, dan institusi pendidikan perlu berjalan beriringan untuk membangun ekosistem digital yang inklusif, di mana inovasi dapat tumbuh dari setiap lapisan masyarakat.
Pada akhirnya, daya saing di era percepatan teknologi bukan hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya terbesar, melainkan siapa yang paling adaptif, kreatif, dan berani berubah. Transformasi digital adalah cermin dari masa depan dan hanya mereka yang berani menatap cermin itu dengan jujur yang akan menemukan jalannya menuju keunggulan sejati. (RED).
Oleh: Rizki Ikhzahrul R.





























Discussion about this post