SURABAYA, RADIANTVOICE.ID – Di tengah krisis multidimensional yang melanda kehidupan berbangsa mulai dari degradasi etika politik, melemahnya kepercayaan publik, hingga menguatnya politik identitas Indonesia menghadapi kebutuhan mendesak akan kepemimpinan yang tidak sekadar transaksional, melainkan transformasional. Kepemimpinan yang mampu mengubah cara berpikir, bertindak, dan memaknai kekuasaan sebagai amanah. Dalam konteks ini, pemikiran Nurcholish Madjid atau Cak Nur menjadi relevan sebagai fondasi nilai dalam mencetak pemimpin transformasional yang berakar pada nilai dasar perjuangan.
Cak Nur menegaskan bahwa inti perjuangan bukanlah perebutan simbol, apalagi kekuasaan semata, melainkan pembebasan manusia dari belenggu ketidakadilan, kebodohan, dan kemunafikan. Nilai keislaman dan nilai kemanusiaan secara universal harus dimaknai secara substantif, bukan formalistik. Prinsip ini menjadi titik tolak kepemimpinan transformasional: pemimpin yang tidak terjebak pada retorika ideologis, tetapi fokus pada perubahan nyata demi kemaslahatan publik.
Salah satu nilai-nilai dasar perjuangan yang ditekankan Cak Nur adalah tauhid sebagai prinsip pembebasan. Tauhid tidak berhenti pada dimensi teologis, tetapi melahirkan keberanian moral untuk menolak absolutisme kekuasaan dan kultus individu. Pemimpin yang bertauhid sejati menyadari bahwa tidak ada kekuasaan yang mutlak selain Tuhan, sehingga kekuasaan manusia harus selalu terbuka terhadap kritik dan koreksi. Inilah fondasi kepemimpinan yang demokratis, inklusif, dan akuntabel.
Selain itu, Cak Nur mengedepankan keadaban (civility) sebagai pilar kehidupan publik. Kepemimpinan transformasional tidak lahir dari politik kebencian, melainkan dari keteladanan etis, dialog rasional, dan penghormatan terhadap keberagaman. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, pemimpin dituntut untuk melampaui sekat primordial dan menjadikan pluralitas sebagai kekuatan, bukan ancaman. Gagasan “Islam yes, partai Islam no” mencerminkan visi kebangsaan Cak Nur yang menempatkan nilai di atas simbol, serta substansi di atas formalitas.
Nilai perjuangan lain yang tak kalah penting adalah komitmen pada ilmu pengetahuan dan rasionalitas. Cak Nur percaya bahwa kemajuan bangsa hanya mungkin dicapai melalui tradisi berpikir kritis dan keterbukaan intelektual. Kepemimpinan transformasional menuntut pemimpin yang berbasis pengetahuan, mampu membaca perubahan global, serta berani mengambil keputusan strategis dengan pertimbangan ilmiah, bukan sekadar kalkulasi politik jangka pendek.
Mencetak kepemimpinan transformasional berbasis nilai dasar perjuangan Cak Nur berarti menyiapkan generasi pemimpin yang berintegritas, berwawasan luas, dan berpihak pada kemanusiaan. Proses ini tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan melalui pendidikan politik yang mencerahkan, penguatan etika publik, serta ruang-ruang dialog yang sehat antara negara dan masyarakat sipil.
Pada akhirnya, warisan pemikiran Nurcholish Madjid mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang siapa yang berkuasa, melainkan untuk apa kekuasaan dijalankan. Dalam situasi bangsa yang terus diuji oleh perubahan zaman, nilai dasar perjuangan Cak Nur tetap relevan sebagai kompas moral untuk melahirkan pemimpin yang mampu mentransformasi Indonesia menuju masyarakat yang adil, beradab, dan bermartabat. (red).































Discussion about this post