JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Perpustakaan umum di Inggris menghadapi krisis serius dengan lebih dari 180 perpustakaan yang telah ditutup atau dialihkan kepada kelompok sukarelawan sejak 2016.
Penurunan ini sangat terasa di komunitas-komunitas yang lebih miskin, yang empat kali lebih mungkin kehilangan akses ke perpustakaan umum dibandingkan wilayah yang lebih kaya.
“Angka-angka ini mengungkapkan skala krisis yang dihadapi perpustakaan umum,” kata Isobel Hunter MBE, Kepala Eksekutif Libraries Connected sebagaimana dilansir BBC News.
Data menunjukkan bahwa satu dari 20 perpustakaan di Inggris telah ditutup atau beralih ke pengelolaan sukarelawan, dengan sekitar 950 perpustakaan yang tersisa mengurangi jam operasionalnya. Selain itu, sekitar 2.000 pekerjaan terkait perpustakaan juga hilang dalam kurun waktu tersebut.
“Meskipun kunjungan ke perpustakaan meningkat 71% antara 2021-22 dan 2022-23, pendanaan masih tertinggal di belakang peningkatan permintaan untuk layanan,” ungkap Rob Whiteman, Kepala Eksekutif Chartered Institute of Public Finance and Accountancy (CIPFA).
Beberapa perpustakaan yang dikelola dewan menawarkan layanan lebih dari sekadar peminjaman buku, termasuk sesi bermain untuk anak-anak dan akses ke komputer. Selain itu, beberapa juga berfungsi sebagai tempat hangat bagi mereka yang mengalami kemiskinan energi selama musim dingin.
“Perpustakaan bukan hanya tempat untuk buku, tetapi juga pusat kegiatan komunitas,” tambah Hunter.
Mantan Peraih Penghargaan Anak-Anak Michael Rosen menilai pengurangan akses ke perpustakaan sebagai “tindakan kejam.” Rosen, yang menghabiskan masa kecilnya di Perpustakaan Pinner di London Utara, merasa bahwa penutupan perpustakaan adalah bentuk deprivasi.
“Setiap kali saya mendengar perpustakaan ditutup, saya merasa benar-benar ngeri,” kata Rosen.
“Kadang-kadang orang tidak menyadari betapa pentingnya perpustakaan bagi masyarakat,”imbuhnya berkaca-kaca.
Sukarelawan telah berperan dalam menyelamatkan beberapa perpustakaan lokal. Di Ringmer, East Sussex, misalnya, Wini Buckwell dan keluarganya aktif dalam kampanye penyelamatan perpustakaan.
“Rasanya seperti ruang itu diambil begitu saja dari komunitas,” kata Buckwell, yang kini menjadi sukarelawan di perpustakaan tersebut.
Namun, keberadaan perpustakaan yang dikelola sukarelawan tidak selalu dapat mempertahankan standar layanan yang sama. Alex Kittow, Kepala Eksekutif Libraries Unlimited, yang mengelola 54 perpustakaan di Devon dan Torbay, mencatat bahwa beberapa kelompok komunitas kesulitan menjaga tingkat layanan yang sama tanpa dukungan pendanaan dari pajak.
Louis Coiffait-Gunn, Kepala Eksekutif CILIP, menyoroti bahwa interpretasi hukum mengenai kewajiban perpustakaan telah berubah dalam beberapa tahun terakhir.
“Masyarakat memiliki hak hukum atas layanan perpustakaan publik yang efisien dan komprehensif,” katanya.
“Namun, penurunan layanan dan pendanaan mencerminkan perubahan dalam interpretasi oleh menteri-menteri sebelumnya,”tambahnya.
Krisis ini memerlukan perhatian lebih lanjut dari pihak berwenang untuk memastikan bahwa perpustakaan tetap dapat melayani komunitas dengan baik, terutama di area yang paling membutuhkan dukungan (RED).





























Discussion about this post