JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham menilai keputusan Pemerintah Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza merupakan langkah strategis yang telah dipertimbangkan secara matang oleh Presiden Prabowo Subianto.
Idrus menegaskan, keputusan tersebut bukan respons spontan, melainkan hasil perhitungan geopolitik yang mendalam dalam kerangka politik luar negeri Indonesia.
“Bung Bahlil yakin Pak Prabowo sudah masak berpikir. Ini keputusan matang, tidak reaktif,” ujar Idrus di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Ia meyakini keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza merupakan bentuk nyata komitmen pemerintahan Prabowo dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina sekaligus mengakhiri konflik dan krisis kemanusiaan di wilayah Gaza.
Menurut Idrus, politik luar negeri Indonesia sejak awal tidak bersifat pasif atau netral, melainkan berpijak pada nilai-nilai konstitusi.
“Politik luar negeri Indonesia itu bukan pasif dan netral. Dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 sudah jelas, kita berpihak pada nilai-nilai konstitusi,” jelasnya.
Ia juga menanggapi kekhawatiran sebagian pihak yang menilai kebijakan tersebut berpotensi menyeret Indonesia ke dalam kepentingan negara-negara besar. Idrus menepis anggapan tersebut dan menegaskan prinsip bebas aktif tetap menjadi pijakan utama.
“Bebas aktif itu bukan berarti kita tidak masuk ke mana-mana. Kita bisa masuk ke semua forum, semua kelompok. Prinsipnya mengalir, tapi tidak hanyut,” tegasnya.
Lebih lanjut, Idrus menyebut pendekatan multi-alignment yang dijalankan Presiden Prabowo merupakan adaptasi realistis terhadap dinamika geopolitik global yang semakin kompleks dan cenderung radikal.
“Indonesia aktif berdialog, terbuka, dan dinamis, namun tetap berpegang pada ideologi Pancasila dan kepentingan nasional,” pungkas Idrus (RED).































Discussion about this post