PEKALONGAN, RADIANTVOICE.ID – Program inovasi pengolahan sampah makanan KomProMi (Komposting Projek Mizan) yang diluncurkan siswa MAN Insan Cendekia (IC) Pekalongan dinilai sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan krisis sampah berbasis pendidikan dan gerakan kolektif.
Dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, Presiden Prabowo menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya melalui kebijakan struktural, melainkan membutuhkan perubahan budaya yang dimulai dari dunia pendidikan. Sekolah dan siswa didorong menjadi agen utama transformasi perilaku ramah lingkungan.
Arahan tersebut diwujudkan melalui KomProMi, sebuah program pengolahan food waste berbasis metode Bokashi Composting yang diterapkan langsung di lingkungan sekolah. Metode ini memungkinkan sampah makanan diolah secara cepat, higienis, tanpa bau, serta minim emisi, sehingga cocok untuk diterapkan di lembaga pendidikan berasrama.
Kepala MAN IC Pekalongan, Khoirul Anam, menyebut program ini sebagai bukti bahwa pelajar mampu menerjemahkan kebijakan nasional menjadi aksi konkret di tingkat akar rumput.
“Inisiatif ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi subjek perubahan. Apa yang dilakukan anak-anak kami sejalan dengan semangat Presiden untuk membangun kesadaran lingkungan sejak dini,” ujar Khoirul Anam dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).
Program KomProMi melibatkan lebih dari 50 siswa dan diketuai oleh Ahmad Ali Rayyan Shahab, siswa kelas XII yang aktif dalam isu lingkungan. Selain pengolahan sampah, program ini juga mencakup edukasi lingkungan, kampanye visual, serta seminar berbasis nilai keislaman.
Rayyan menjelaskan bahwa KomProMi tidak hanya bertujuan mengurangi sampah, tetapi juga membangun kesadaran ekologis yang berlandaskan nilai spiritual.
“Mizan berarti keseimbangan. Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga amanah moral dan spiritual,” kata Rayyan.
Ke depan, MAN IC Pekalongan berencana mendorong KomProMi menjadi model percontohan nasional yang dapat direplikasi di 25 MAN Insan Cendekia lainnya serta sekolah berasrama di berbagai daerah. Program ini diharapkan menjadi contoh bahwa sinergi kebijakan nasional dan inisiatif pelajar mampu menghasilkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan (RED).



























Discussion about this post