JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, menegaskan bahwa setiap kebijakan di sektor pendidikan harus disusun secara hati-hati dan tidak dilakukan secara terburu-buru. Hal ini disampaikannya merespons dinamika wacana penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sempat mencuat beberapa waktu lalu.
Menurut Reni, kebijakan pendidikan harus melalui kajian komprehensif berbasis data serta mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi peserta didik. Ia menilai keputusan yang tergesa-gesa berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam proses belajar mengajar.
“Dalam membuat kebijakan, dalam hal ini sektor pendidikan, kita tidak boleh mengambil keputusan secara terburu-buru. Semua kebijakan harus melalui kajian yang mendalam agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi siswa,” ujar Reni dalam keterangannya pada Radiant Voice, Kamis (26/3/2026).
Politisi Fraksi PKS itu juga menyatakan dukungannya terhadap keputusan pemerintah yang membatalkan wacana PJJ. Ia menilai, hingga saat ini pembelajaran tatap muka masih menjadi metode paling efektif dalam mendukung kualitas pendidikan.
Menurutnya, interaksi langsung antara guru dan siswa memiliki peran penting, tidak hanya dalam pemahaman materi, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan perkembangan sosial peserta didik.
“Sekolah tatap muka tetap menjadi pilihan terbaik saat ini, karena memberikan pengalaman belajar yang lebih utuh, baik dari sisi akademik maupun pembentukan karakter,” jelasnya.
Lebih lanjut, Reni menekankan bahwa inovasi pendidikan tetap diperlukan, namun harus diterapkan secara terukur dan tidak mengorbankan mutu pembelajaran. Ia juga mendorong pemerintah melibatkan berbagai pihak, mulai dari tenaga pendidik hingga orang tua dan pakar pendidikan dalam merumuskan kebijakan.
“Tujuan utama pendidikan adalah mencetak generasi yang unggul. Oleh karena itu, setiap kebijakan harus benar-benar matang dan berorientasi pada masa depan anak-anak kita,” pungkasnya (RED),































Discussion about this post