JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Ketua Fraksi Partai Golkar di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Muhammad Sarmuji, mengingatkan pemerintah untuk segera mengantisipasi dampak lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar Amerika Serikat terhadap stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Sarmuji, situasi geopolitik global yang memanas akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah mendorong harga minyak dunia melonjak hingga menembus lebih dari US$100 per barel.
Pada saat yang sama, tekanan ekonomi global juga tercermin dari menguatnya dolar AS yang menyebabkan nilai tukar rupiah sempat menembus Rp17.000 per dolar pada awal perdagangan Senin (9/3/2026).
“Lonjakan harga minyak dunia di atas US$100 per barel dan penguatan dolar AS harus segera direspons secara serius oleh pemerintah. Dampaknya terhadap APBN bisa sangat signifikan, terutama pada beban subsidi energi,” kata Sarmuji, Senin.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia secara langsung berpotensi meningkatkan beban subsidi energi pemerintah. Selain itu, penguatan dolar AS juga berdampak pada meningkatnya kewajiban pembayaran utang luar negeri Indonesia jika dihitung dalam rupiah.
“Penguatan dolar AS juga secara langsung meningkatkan beban utang luar negeri Indonesia dalam nilai rupiah. Artinya, kewajiban pembayaran pemerintah menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah,” ujarnya.
Karena itu, Sarmuji meminta Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang dipimpin oleh Purbaya Yudhi Sadewa untuk segera melakukan simulasi berbagai skenario ekonomi guna mengantisipasi tekanan terhadap APBN jika kondisi global terus berlanjut.
“Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa harus segera melakukan simulasi dan mitigasi agar APBN kita tetap valid. Konsekuensi terhadap beban APBN pasti tinggi, terutama pada subsidi,” tegasnya.
Ia juga menilai bahwa situasi global yang penuh ketidakpastian membutuhkan koordinasi dan komunikasi yang terbuka antara pemerintah, DPR, dan publik.
“Menteri Keuangan jangan asyik dengan dunianya sendiri. Situasi seperti ini membutuhkan koordinasi yang kuat dan komunikasi yang terbuka agar pemerintah, DPR, dan publik mengetahui langkah-langkah mitigasi yang sedang disiapkan,” katanya.
Sarmuji menegaskan Fraksi Partai Golkar akan terus mencermati perkembangan dinamika global yang berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, kesiapan pemerintah membaca risiko sejak dini sangat penting untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.
“Gejolak global tidak bisa kita hindari, tetapi dampaknya terhadap ekonomi nasional harus bisa kita kelola dengan baik. Karena itu langkah antisipatif harus segera dilakukan,” pungkasnya (RED).




























Discussion about this post