JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKB, Syamsu Rizal, merespons eskalasi konflik antara Pakistan dan Afghanistan menyusul serangan militer Pakistan ke sejumlah wilayah Afghanistan, termasuk Kabul, pada Jumat (27/2) dini hari.
Berdasarkan klaim militer Pakistan, serangan tersebut menewaskan 133 pejuang Afghanistan dan melukai lebih dari 200 orang. Situasi keamanan di kawasan dilaporkan kian tegang pasca-serangan balasan yang memperburuk ketegangan perbatasan.
Pria yang akrab disapa Deng Ical itu meminta Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bergerak cepat memastikan keamanan dan keselamatan WNI yang berada di Pakistan maupun Afghanistan.
“Keamanan dan keselamatan WNI harus menjadi prioritas utama. Saya meminta Kemlu melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di masing-masing negara untuk terus memantau perkembangan situasi dan menjalin komunikasi intensif dengan para WNI,” ujar Syamsu Rizal, Jumat (27/2).
Ia mengimbau WNI meningkatkan kewaspadaan dan menghindari lokasi yang berpotensi menjadi target serangan maupun pusat konsentrasi massa. Menurutnya, jika situasi semakin memburuk, opsi evakuasi harus segera dipersiapkan dan dijalankan.
“WNI harus menghindari tempat-tempat rawan dan mengikuti seluruh arahan perwakilan RI setempat. Bila kondisi tidak kondusif, evakuasi harus segera dilaksanakan,” tegasnya.
Sebagai anggota Komisi I DPR RI yang membidangi urusan luar negeri dan pertahanan, Syamsu Rizal memastikan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memantau perkembangan situasi serta langkah-langkah perlindungan WNI di kawasan konflik.
Ia juga mendorong pemerintah Indonesia mengedepankan diplomasi dan menyerukan penahanan diri semua pihak guna mencegah eskalasi yang lebih luas. Serangan Pakistan dilaporkan terjadi setelah Afghanistan menyerang situs-situs militer Pakistan di sepanjang Garis Durand pada Kamis (26/2) malam, sebagai respons konflik perbatasan yang menewaskan sedikitnya 18 orang di Afghanistan.
Selain itu, Deng Ical meminta Kemlu segera menyusun kajian strategis berupa peta situasi aktual dan potensi gangguan keamanan terhadap WNI di kawasan konflik. Pemetaan tersebut, menurutnya, perlu ditindaklanjuti bersama Tentara Nasional Indonesia dan para pemangku kepentingan strategis lainnya.
“Menilik eskalasi yang terus berkembang, bukan hanya Pakistan-Afghanistan, tetapi juga ketegangan di kawasan lain, pemerintah perlu kesiapsiagaan komprehensif untuk melindungi WNI,” pungkasnya (RED).





























Discussion about this post