JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, mendesak pemerintah segera melakukan terobosan dalam menangani banjir yang terus berulang di Bali. Desakan ini menyusul cuaca ekstrem yang memicu banjir parah di kawasan Sanur, Denpasar, hingga memaksa evakuasi warga dan turis asing dengan perahu karet di Jalan Bumiayu sejak Minggu (22/2) malam.
Huda menilai banjir yang kini makin sering melanda titik-titik vital pariwisata merupakan ancaman serius bagi eksistensi Bali sebagai destinasi wisata internasional. Jika dibiarkan, citra Bali sebagai wajah pariwisata Indonesia berisiko tergerus di mata dunia.
“Banjir Bali dalam beberapa waktu terakhir ini terus berulang dan polanya kian parah. Kondisi ini mengancam eksistensi Bali sebagai pusat destinasi wisata internasional. Pemerintah tidak bisa lagi bekerja dengan cara-cara biasa, harus ada langkah terobosan agar banjir tidak menjadi agenda rutin setiap musim hujan,” ujar Huda di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga menyoroti keterkaitan persoalan banjir dengan problem sampah yang sebelumnya disinggung Presiden Prabowo Subianto. Menurut Huda, keluhan para pemimpin dunia tentang kondisi Bali menjadi sinyal adanya kesalahan tata kelola ruang dan wilayah di Pulau Dewata.
“Banjir dan sampah di Bali menjadi indikator adanya kesalahan pengelolaan tata ruang. Pemerintah harus mengevaluasi total izin pengembangan restoran dan hotel yang mengepung wilayah Bali,” tegasnya.
Ia menambahkan, pelanggaran kawasan hijau—yang semestinya berfungsi sebagai lahan pertanian, area serapan air, dan konservasi—telah merusak tata kelola air. Masifnya alih fungsi lahan dinilai menjadi penyebab utama banjir kini merendam wilayah yang sebelumnya relatif aman.
Untuk menjaga kenyamanan wisatawan mancanegara, Huda mendorong audit ulang perizinan hotel dan restoran, khususnya yang berdiri di kawasan serapan air atau melanggar sempadan sungai. Ia juga meminta perbaikan menyeluruh infrastruktur drainase perkotaan serta pengerukan sedimentasi sungai di titik rawan banjir seperti Seminyak dan Kuta.
“Pengembalian fungsi kawasan hijau dan lahan pertanian harus segera dilakukan agar limpasan air hujan tidak langsung masuk ke permukiman. Kita harus bertindak cepat. Jika tata ruang tidak dibenahi sekarang, Bali bisa kehilangan daya tariknya sebagai destinasi unggulan,” pungkas Huda (RED).




























Discussion about this post