JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Neng Eem Marhamah, mendesak Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk segera menggelar razia terhadap produk kurma yang beredar di pasaran. Desakan ini menyusul viralnya temuan warganet soal kurma yang diduga disiram sirup glukosa dan pengawet, namun tidak dicantumkan secara transparan pada label berbahasa Indonesia.
“Pemerintah harus segera bertindak melakukan razia di lapangan. Jangan biarkan pedagang nakal menyiram kurma dengan sirup glukosa tanpa keterangan jujur kepada publik. Ini menyangkut hak konsumen mendapatkan informasi produk yang akurat,” ujar Neng Eem di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Menurut Neng Eem, tindakan tegas berupa razia penting untuk memastikan produsen dan pedagang tidak menyesatkan konsumen. Selama ini, kurma dipersepsikan sebagai buah sehat dengan serat tinggi dan pemanis alami, sehingga manipulasi kandungan berpotensi merugikan kesehatan masyarakat.
Ia menekankan, bagi umat Islam di Indonesia, kurma bukan sekadar pangan, tetapi bagian dari keyakinan—terutama menjelang Ramadan sehingga tingkat permintaannya sangat tinggi. Kondisi ini, kata Neng Eem, rawan dimanfaatkan oknum demi keuntungan tidak sehat.
“Kurma disakralkan secara religi. Sangat disayangkan jika kepercayaan ini dimanfaatkan untuk praktik curang. BPOM harus memastikan kurma yang beredar benar-benar aman, terutama bagi penyandang diabetes yang bisa terdampak tambahan glukosa,” tegasnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor kurma Indonesia terus meningkat: 54.000 ton (USD 86,2 juta) pada 2023, naik menjadi 60.000 ton (USD 89,5 juta) pada 2024, dan 65.000 ton (USD 94,1 juta) pada 2025. Besarnya nilai pasar ini dinilai menuntut pengawasan mutu dan pelabelan yang lebih ketat.
Neng Eem meminta pemerintah tak hanya fokus pada kelancaran suplai, tetapi juga ketat menindak pelanggaran label. “Jika kandungan tidak sesuai label, tarik produknya dari pasaran. Kita harus melindungi masyarakat dari potensi penipuan pangan,” pungkas legislator asal Jawa Barat tersebut (RED)



























Discussion about this post