JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Karmila Sari, menegaskan bahwa keselamatan pelajar harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan situs cagar budaya, menyusul insiden ambruknya lantai dua Bangunan Tangsi Belanda di Kabupaten Siak, Riau, yang melukai sembilan siswa dan satu guru.
Menurut Karmila, peristiwa tersebut memperlihatkan lemahnya sistem pengamanan dan pengawasan terhadap bangunan bersejarah yang kerap dijadikan lokasi wisata edukasi bagi siswa sekolah.
“Cagar budaya sering menjadi tujuan study tour. Maka standar keamanannya harus setara dengan fasilitas publik lain yang digunakan anak-anak. Tidak boleh ada kompromi soal keselamatan,” ujar Karmila Sari dalam pernyataan tertulisnya, Jum’at (6/2/2026).
Ia menilai, fakta bahwa Tangsi Belanda telah direvitalisasi pada 2018 dengan anggaran miliaran rupiah, namun tetap mengalami keruntuhan, menjadi indikator perlunya evaluasi serius terhadap pola perawatan pascarevitalisasi.
“Kita tidak bisa hanya fokus pada pembangunan fisik di awal. Pemeliharaan berkala, audit struktur, dan pembatasan aktivitas pengunjung harus menjadi satu kesatuan kebijakan,” tegasnya.
Karmila juga menyoroti perlunya standar nasional keselamatan bagi seluruh cagar budaya yang dibuka untuk publik, terutama yang digunakan sebagai sarana pembelajaran sejarah bagi pelajar. Menurutnya, hingga kini belum ada sistem pengawasan terpadu yang memastikan bangunan bersejarah benar-benar layak dikunjungi.
“Ini bukan hanya soal satu bangunan di Siak, tapi soal keselamatan ribuan pelajar di seluruh Indonesia yang setiap tahun mengunjungi situs sejarah,” katanya.
Selain itu, Karmila mendorong agar pemerintah pusat bersama pemerintah daerah melakukan pemetaan risiko terhadap seluruh cagar budaya aktif, termasuk usia material bangunan, daya tampung pengunjung, serta potensi kerusakan struktural.
Ia menegaskan Komisi X DPR RI akan menjadikan insiden tersebut sebagai bahan evaluasi dalam pembahasan kebijakan kebudayaan dan pendidikan ke depan.
“Warisan sejarah harus dijaga, tetapi nyawa anak-anak jauh lebih berharga. Negara wajib memastikan keduanya berjalan seiring,” pungkas Karmila Sari (RED).




























Discussion about this post