JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Lalu Hadrian Irfani, menyoroti maraknya kasus kekerasan yang terus terjadi di lingkungan pendidikan sepanjang tahun 2025. Ia menegaskan, kondisi tersebut menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan nasional.
“Sepanjang tahun 2025, kami mencatat lebih dari 1.000 kasus kekerasan yang terjadi di sekolah maupun perguruan tinggi. Bentuknya beragam, mulai dari kekerasan verbal hingga fisik. Ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita masih menyisakan pekerjaan rumah besar,” ujar Lalu Hadrian, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, pendidikan yang selama ini diagungkan sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa justru masih diwarnai praktik-praktik yang bertentangan dengan nilai dasar pendidikan itu sendiri.
“Pendidikan pada prinsipnya adalah memanusiakan manusia. Kalau masih ada kekerasan, berarti ada yang salah dalam sistem dan praktik pendidikan kita,” tegasnya.
Politisi PKB asal Daerah Pemilihan NTB II itu mencontohkan kasus kekerasan yang terjadi di sebuah SMK di Jambi, di mana seorang guru melakukan kekerasan terhadap siswa yang kemudian berujung pada pengeroyokan guru oleh sejumlah siswa.
Ia juga menyoroti fenomena guru yang membawa senjata tajam ke lingkungan sekolah. Menurutnya, tindakan tersebut sudah melampaui batas dan menunjukkan kegagalan pemahaman terhadap relasi edukasi.
“Jika ada guru membawa senjata tajam ke sekolah, itu sudah kebablasan. Ini menandakan relasi edukasi benar-benar tidak dipahami,” ujarnya.
Lalu Hadrian menilai relasi antara guru dan siswa saat ini belum berjalan sebagaimana mestinya. Baik guru maupun siswa dinilai belum sepenuhnya memahami peran, tugas, dan tanggung jawab masing-masing.
“Saya melihat guru tidak sepenuhnya memahami tugas dan kewajibannya, begitu juga siswa. Padahal relasi edukasi itu harus dibangun atas dasar saling menghormati,” jelas Ketua DPW PKB NTB tersebut.
Ia menegaskan bahwa guru seharusnya menjadi figur teladan dan panutan bagi siswa, bukan justru terlibat dalam konflik atau kekerasan.
“Guru itu harus menjadi profil yang diidolakan, bukan malah menjadi sumber konflik apalagi melakukan kekerasan terhadap siswa,” tegasnya.
Selain itu, Lalu Hadrian menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter di sekolah. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada prestasi akademik semata.
“Pendidikan karakter tidak bisa dikesampingkan. Ini penting untuk membentuk karakter dan akhlak siswa. Inilah yang harus kita luruskan dan perbaiki agar pendidikan kembali pada tujuan utamanya,” pungkasnya (RED).





























Discussion about this post