JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Hindun Anisah, mengingatkan pentingnya pengawasan ketat dalam penyaluran bantuan bagi peternak yang terdampak banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatra. Ia menegaskan, tanpa pengawasan yang kuat, bantuan berpotensi tidak tepat sasaran dan gagal membantu pemulihan peternak.
“Bantuan ini sangat penting, tetapi harus disalurkan dengan pengawasan ketat agar benar-benar sampai kepada peternak yang terdampak. Jangan sampai terjadi penyimpangan di lapangan,” ujar Hindun di Jakarta, Selasa (6/1/2026).
Hindun menilai langkah cepat pemerintah dalam memberikan bantuan patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan bahwa peternak merupakan kelompok yang sangat rentan dalam situasi bencana karena kehilangan ternak berarti kehilangan modal produksi sekaligus sumber penghidupan.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) per 31 Desember 2025, jumlah hewan ternak terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara mencapai 778.922 ekor. Ternak unggas tercatat paling banyak terdampak dengan 622.154 ekor, disusul kambing dan domba sebanyak 113.325 ekor, serta sapi dan kerbau sebanyak 38.393 ekor.
Menurut Hindun, gangguan pada sektor peternakan tidak hanya berdampak pada peternak, tetapi juga berpotensi memicu masalah ketahanan pangan nasional. Ia memperingatkan risiko kelangkaan dan kenaikan harga daging, telur, dan susu apabila pemulihan peternak tidak segera dilakukan secara menyeluruh.
“Jika peternak dibiarkan berjuang sendiri, efeknya akan dirasakan masyarakat luas melalui kenaikan harga pangan. Karena itu, negara harus hadir secara nyata,” tegas legislator asal Jawa Tengah tersebut.
Hindun juga menekankan pentingnya penyesuaian bantuan sesuai dengan jenis ternak yang dimiliki peternak. Ia menyebut kebutuhan peternak sapi, kambing, dan unggas berbeda, sehingga skema bantuan tidak bisa disamaratakan.
“Bantuan harus tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. Selain itu, pemerintah perlu menyiapkan program pemulihan jangka panjang agar peternak bisa kembali mandiri dan produktif,” pungkasnya (RED).





























Discussion about this post