PADANG, RADIANTVOICE.ID – Tradisi merandang atau memasak rendang bersama menjadi ruang pemulihan emosional bagi para ibu penyintas bencana di posko pengungsian Sumatera Barat. Melalui kegiatan ini, Pengajian Al-Hidayah menghadirkan kebersamaan dan semangat baru di tengah situasi pascabencana.
Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah Hetifah Sjaifudian bersama jajaran pengurus turun langsung ke dapur posko, berbaur dengan para ibu pengungsi untuk menyiapkan dan memasak rendang secara bersama-sama. Aktivitas tersebut menjadi momen berbagi cerita, tawa, dan saling menguatkan antarperempuan.
Menurut Hetifah, merandang memiliki makna filosofis yang kuat dalam budaya Minangkabau. Proses memasak rendang yang membutuhkan waktu, ketelatenan, dan kesabaran mencerminkan ketangguhan perempuan dalam menghadapi ujian, termasuk saat bencana melanda.
“Merandang adalah simbol kegigihan dan kebersamaan. Di posko ini, kami ingin para ibu kembali merasakan kekuatan mereka sebagai penjaga ketahanan keluarga,” kata Hetifah, Selasa (23/12).
Ia menambahkan, kegiatan memasak bersama dan makan bersama juga menjadi sarana untuk memulihkan suasana psikologis para penyintas, khususnya perempuan, yang terdampak langsung oleh bencana. Kehadiran relawan dan pengurus Pengajian Al-Hidayah diharapkan mampu menghadirkan rasa ditemani dan tidak sendiri.
Kegiatan merandang tersebut merupakan bagian dari rangkaian aksi kemanusiaan Pengajian Al-Hidayah Peduli di Sumatera Barat. Selain membawa bantuan logistik dan dana, Pengajian Al-Hidayah menekankan pentingnya sentuhan sosial dan budaya dalam proses pemulihan pascabencana.
Bagi para ibu di posko pengungsian, kegiatan merandang ini bukan hanya tentang memasak makanan, tetapi juga tentang menghidupkan kembali harapan, semangat, dan solidaritas perempuan di tengah keterbatasan (RED).































Discussion about this post