TERNATE, RADIANTVOICE.ID – Dalam sebuah rapat koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Selasa (15/7/2025), Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menggarisbawahi pentingnya menjadikan transmigrasi sebagai strategi geostrategis untuk mengembalikan posisi Maluku Utara sebagai simpul utama ekonomi di kawasan timur Indonesia.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Kota Ternate tersebut, Viva Yoga membawa angin segar: pemerintah pusat mengucurkan dana Rp35 miliar kepada tujuh daerah di Maluku Utara untuk mendukung pengembangan kawasan transmigrasi produktif. Dana itu dialokasikan secara spesifik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal berbasis potensi unggulan wilayah.
Lebih dari sekadar program sosial-ekonomi, transmigrasi kini diarahkan sebagai agenda nasional untuk menjawab tantangan ketimpangan wilayah, kemandirian pangan, dan daya saing maritim. “Transmigrasi adalah instrumen strategis yang tak hanya memindahkan penduduk, tapi membangun keseimbangan geopolitik dan ekonomi antara pusat dan pinggiran,” ujar Viva kepada wartawan.
Menyusuri pidatonya, Viva mengingatkan bahwa Maluku Utara bukan wilayah biasa. Ia adalah pusat sejarah global, tempat bangsa-bangsa Eropa datang berebut rempah pada abad ke-15 dan ke-16. “Ternate dan Tidore adalah jantung jalur rempah dunia. Hari ini, ia bisa kita sulap menjadi koridor ekonomi agro-maritim yang baru,” tegasnya.
Menurutnya, komoditas seperti pala, cengkeh, kakao, dan kelapa yang dahulu menggerakkan dunia, kini harus kembali menjadi poros utama ekonomi lokal. Untuk itu, transmigrasi tak lagi hanya menyasar pertanian pangan, tetapi diarahkan pada hilirisasi agroindustri dan ekspor rempah-rempah.
Ia menyebut kawasan seperti Weda, Oba, dan Wasile sebagai titik vital yang akan didorong menjadi zona industri transmigrasi terintegrasi. “Kita ingin bangun ekosistem dari hulu ke hilir. Mulai dari produksi, pengolahan, hingga ekspor. Tak boleh lagi kita hanya jadi pengepul bahan mentah,” tegasnya.
Viva Yoga juga menekankan bahwa posisi geografis Maluku Utara yang berbatasan langsung dengan Filipina dan Samudera Pasifik harus dimanfaatkan secara maksimal. Ia menyebut provinsi ini sebagai “gerbang Indonesia Timur ke pasar Asia-Pasifik”, yang bisa menjembatani kepentingan nasional dengan dinamika kawasan.
Menurutnya, pembangunan kawasan transmigrasi harus dilihat sebagai investasi jangka panjang dalam mengangkat nilai tambah wilayah, membuka lapangan kerja baru, dan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. “Transmigrasi bisa menjadikan daerah terluar sebagai pilar utama ekonomi bangsa,” katanya.
Di balik alokasi dana dan program teknis, Viva menjelaskan bahwa seluruh langkah ini merupakan bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada misi membangun Indonesia dari pinggiran, memperkuat ketahanan pangan, dan menjaga integrasi nasional.
Ia juga menyampaikan bahwa kementeriannya sedang mendorong pembentukan lembaga ekonomi dan bisnis transmigrasi yang dapat membantu petani, nelayan, dan pelaku UMKM mengakses pasar global, khususnya lewat model koperasi modern dan digitalisasi sistem perdagangan lokal.
“Kalau dulu kita dijajah karena rempah, hari ini kita harus bangkit karena rempah. Tapi bukan hanya menjualnya—kita harus menguasai seluruh rantai nilainya,” tutup Viva (RED).






























Discussion about this post